Media Coverage


2016

Pahit Manis Industri Gula

Pahit Manis Industri Gula

Dibukanya Terusan Suez pada abad ke-18 mengubah drastis struktur ekonomi negara bangsa penjajah. Biaya transportasi Eropa—Asia menurun drastis. Belanda yang saat itu lebih terkenal dengan sebutan Hindia Belanda, menyasar Pulau Jawa untuk berinvestasi, termasuk pabrik gula. Berdasarkan data yang dihimpun Tim Percepatan Investasi Pertanian Kementan, industri gula rafinasi dan investor pabrik gula baru membutuhkan sedikitnya 350.000 ha lahan untuk pembangunan kebun. Angka itu sedikit di bawah luas lahan tebu saat ini yang sekitar 445.000 ha. Soal lahan misalnya, saat lahan dibutuhkan, statusnya tumpang tindih. Di saat yang sama, data Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan sedikitnya 8 juta ha dari izin 11 juta HTI berada dalam keadaan tidak digunakan (terlantar).

 

This article is also published on KalimantanBisnis.com under the same title


Standar Sawit Hijau Indonesia akan Ikuti Aturan Gambut

Standar Sawit Hijau Indonesia akan Ikuti Aturan Gambut

Pemerintah sedang menggodok perbaikan standar sawit hijau Indonesia atau Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Salah satu acuan ISPO selama ini soal tinggi muka air 0,6-0,8 meter sesuai aturan menteri pertanian. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, itu menyebutkan, tinggi muka air gambut 0,4 meter. Herry Purnomo, peneliti Center for International Forestry Research (Cifor) mengatakan bahwa secara garis besar, PP baru ini bagus melindungi gambut dari pembakaran. Namun, aturan itu perlu membangun kapasitas buat petani atau pekebun, terutama dalam penyiapan lahan tanpa bakar. Penyiapan lahan tanpa bakar, memerlukan dana berlipat-lipat dari biasa. Dia menyadari, implementasi PP ini tidaklah mudah. Untuk itu, katanya, selayaknya, implementasi aturan ini berbasis pendekatan lansekap (landscape approach) hingga konservasi hutan atau gambut dan pengembangan pertanian ataupun perkebunan sawit bisa saling mendukung.


Industri Kehutanan, Sengketa Lahan Jadi Permasalahan Utama

Industri Kehutanan, Sengketa Lahan Jadi Permasalahan Utama

Menyelesaikan sengketa lahan hutan dinilai lebih urgen dibandingkan dengan wacana pemerintah memberikan pemberian hak guna usaha (HGU). Pasalnya, sejauh ini banyak lahan hutan yang bermasalah sehingga tidak bisa digarap secara optimal. Herry Purnomo, Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR) mengatakan ada banyak dorongan untuk menjadikan lahan hutan sebagai HGU untuk mendapatkan kemudahan pembiayaan sektor perbankan. Namun, menjadikan semua lahan HGU tidak menyelesaikan masalah karena permasalahan utama pengelolaan hutan ialah sengketa lahan.


Which tropical forest conservation strategies are proving most effective?

Which tropical forest conservation strategies are proving most effective?

A multitude of conservation strategies are currently deployed across the tropics in order to curb deforestation, preserve biodiversity, and mitigate global warming. But conservationists and researchers often point to a need for more and better evaluations of the effectiveness of this diversity of conservation initiatives in order to determine what actually works and what doesn’t. An overview study led by Jan Börner of Germany’s University of Bonn and the Center for International Forestry Research (CIFOR) focuses on annual forest cover change as a measure of the conservation effects estimated by the 14 studies in the collection. The latest assessment by the UN Food and Agriculture Organization found that Earth’s overall natural forest cover continues to shrink, though at a slower annual rate than in the past. Börner and his co-authors in the overview study wrote that reduced deforestation rates may be the result of slower economic growth, decreasing demand for cleared land in urbanizing economies, or a sign that conservation policies are succeeding.


Pendekatan Bentang Alam untuk Menjawab Konflik Pengelolaan Hutan

Pendekatan Bentang Alam untuk Menjawab Konflik Pengelolaan Hutan

Berdasarkan penelitian CIFOR, pendekatan bentang alam telah berhasil melestarikan hutan dan memberikan manfaat kepada warga setempat di beberapa tempat di Indonesia. Peneliti CIFOR, Josh van Vianen mengatakan pendekatan bentang alam bisa menjawab isu-isu aktual seperti kemiskinan, krisis pangan, hilangnya keberagaman alam, perubahan iklim, dan lain-lain. Linda Yuliani, peneliti CIFOR, menyebutkan setidaknya tiga contoh penerapan pendekatan lansekap di Indonesia yaitu di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; hutan adat di Bulukumba, Sulawesi Selatan; serta Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa-Nipa di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara.


Sertifikasi Lestari Harus Berorientasi Global

Sertifikasi Lestari Harus Berorientasi Global

Sertifikasi hutan lestari harus memenuhi standar global dalam hal pengelolaan lestari dan keberlanjutan, namun tetap memiliki kekhasan Indonesia. Herry Pumomo, Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR) menyatakan, sertifikat IFCC penting meskipun bersifat sukarela. Saat ini, sertifikat IFCC memang belum setenar FSC. Namun ke depan, permintaan terhadap produk bersertikat IFCC pasti meningkat. Herry menambahkan, konteks berwawasan lingkungan pembangunan berkelanjutan sesuai dengan amanat konstitusi. Pada Pasal 33 ayat 4 setelah amandemen 1998 disebutkan bahwa pengembangan ekonomi sumber daya alam harus berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Herry mengatakan bahwa konteks berkelanjutan di pasal itu jika dikonkretkan menjadi sertifikasi. Karena itu, sertifikasi sangat penting dalam pembangunan berwawasan lingkungan.

This article is also published under the same title on Warta Ekonomi 


Small-scale farming threatens rainforests in Sumatra

Small-scale farming threatens rainforests in Sumatra

A recent study probed the ecology of small farms in Sumatra, showing that small-scale farming can be just as damaging to the environment as large plantations. Research from the Center for International Forestry Research (CIFOR) indicates that smallholder plot sizes vary widely, with many being as large as 200 hectares. Such smallholders are rich and often live in large distant cities. David Gaveau, an ecologist at CIFOR said that over the last decade these large smallholders have become an increasing force behind deforestation and landscape fires in Sumatra. Terry Sunderland, senior scientist at CIFOR said that many large rubber companies in Indonesia rely on output from the network of smallholders, which encourages the farmers to choose monocultures for higher yields. In stark contrast, most smallholder farmers in other tropical countries plant a diversity of food crops. It’s distinctive to Indonesia, especially to Sumatra and Kalimantan.


Kisah Teman Sejati Umat Hindu Bali Penghijau Lahan Gersang Bangli

Kisah Teman Sejati Umat Hindu Bali Penghijau Lahan Gersang Bangli

Pembina Kelompok Tani Hidup Rukun di Banjar Dinas Bubungkelambu, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, bertatap muka dengan jurnalis yang tengah mengikuti workshop jurnalistik tentang kehutanan yang diselenggarakan Center for International Forestry Research (CIFOR).  I Nyoman Conto, nama sang pembina, bersama 25 anggotanya bercerita tentang penanaman bambu untuk menghijaukan kembali lahan gersang. Ia mengaku kelompok taninya kini sengaja memfokuskan pada pembudidayaan pohon bambu karena fungsinya yang erat dengan setiap tahap kehidupan umat Hindu Bali.

This article is also published on Tribun Pangan under title Budidaya Bambu Petani Bali

 



Top