Herry Purnomo, peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) mendorong Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk memperkuat lembaga adat di Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan hutan di Indonesia. Herry juga berpendapat bahwa hutan di Indonesia harus diselamatkan melalui strategi bentangan alam (landscape) di mana di dalan hutan itu ada sawit, kayu, madu, sawah, orang atau warga, binatang dan lainnya. CIFOR menginginkan kemudahan bagi pengelola hutan khususnya hutan rakyat mendapatkan sertifikasi yang diakui internasional sehingga produk yang bahan bakunya dari hutan bisa tembus ke negara-negara yang memberlakukan penyertaan sertifikasi.
Media Coverage
2016
Pendekatan “Integrasi Bentang Alam” Solusi Hadapi Masalah Global
Center for International Forestry Research (CIFOR) menyampaikan bahwa Landscape Approach atau metode pendekatan bentangan alam yang terintegrasi menjadi solusi pemangku kebijakan dalam menghadapi masalah global. Hal ini disampaikan oleh oleh Josh Van Vianen, Peneliti dari CIFOR disela-sela acara pertemuan terkait sertifikasi hutan di Kuta Bali. Josh mengatakan bahwa landscape approach merupakan kerangka berpikir yang bisa membantu mengatasi masalah global. Seluruh persoalan saling berhubungan, tidak terpisahkan. Sementara Linda Yuliani peneliti dari CIFOR menyampaikan bahwa cara menyatukan kerangka berpikir tersebut dengan cara interaksi secara keseluruhan yang terintegrasi.
RI Butuh Skema Perlindungan Karbon Biru
Indonesia memiliki 17%-20% cadangan blue carbon (karbon biru) dunia. Namun, hingga kini belum ada peta jalan perlindungannya yang terkandung dalam ekosistem mangrove dan padang lamun tersebut. Daniel Mudiyarso, Peneliti Senior Center for International Forestry Research (CIFOR) mengatakan bahwa secara total terdapat potensi US$6 miliar sampai US$40 m dari market capture global, dan Indonesia yang memiliki hampir seperlima karbon biru dunia ada potensi US$6 m hingga US$12 miliar. Menurut Daniel, Skema perlindungan karbon biru dapat dimasukkan ke skema Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan (REDD+).
Pelestarian Hutan di Kintamani Sudah Berbasis Landscape
Lembaga penelitian sosial kehutanan dari CIFOR menilai proses reboisasi dan penyelamatan hutan di Banjar Bubungkelambu, Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani, Bangli sudah sesuai dengan pendekatan landscape. Dimana pelestarian hutan tersebut memenuhi tuntunan budaya, meningkatkan perekonomian dan Sumber Daya Alam masyarakat setempat, melestarikan kearifan lokal. Melibatkan banyak stakeholder yang berpartisipasi aktif, menyelamatkan lingkungan dengan memperhatikan kondisi tanah, dan juga menerima setiap masukan dari partisipatory. Linda Yuliani, salah satu peneliti CIFOR mengatakan bahwa kelompok Tani Hidup Rukun sudah sesuai dengan pola pendekatan landscape dalam mereboisasi dan melestarikan lingkungan. Dimana unsur pelestarian budayanya ada, dari sisi ekonomis dan meningkatan SDA masyarakat setempat ada, kemudian melibatkan kelompok. Selain itu pohon yang ditanamnya juga betul betul mendukung reboisasi atau pelestarian hutan.
CIFOR Dorong Penerapan Integrasi Pendekatan Bentang Alam
Lembaga penelitian kehutanan, Center for International Forestry Research (CIFOR) mendorong pemangku kebijakan dalam menerapkan pendekatan bentang alam yang terintegrasi dengan keterlibatan partisipatif masyarakat untuk menghadapi masalah global seperti kemiskinan, ketahanan pangan dan sosial budaya. Josh, peneliti dari CIFOR menjelaskan pada lokakarya jurnalis di Kuta, Bali, Selasa, bahwa pemangku kebijakan berperan untuk menciptakan kebijakan lingkungan yang memberikan ruang kepada pendekatan bentang alam dengan solusi yang terintegrasi. Menurutnya, pendekatan bentang alam merupakan kerangka untuk mengintegrasikan kebijakan dan penggunaan lahan dengan sistem manajemen yang terintegrasi dan mengajak semua pihak untuk bernegosiasi membuat perencanaan bersama dalam meminimalkan dampak negatif. Selain itu, Linda Yuliani, peneliti CIFOR lainnya menjelaskan bahwa pendekatan lanskap itu tidak hanya melihat satu sisi seperti pengelolaan hutan semata tetapi mempertimbangkan sisi ekonomi, konservasi, budaya, lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di dalamnya.
Indonesia Tries New Tactics to Douse Annual Firestorms
Late last month, a fire patrol here was hard at work battling small blazes on the dried-out bogs that make eastern Sumatra island infamous as a major source of Southeast Asia’s perennial, choking haze. Half a million people in Indonesia alone were treated for respiratory infections. Wetter weather this year helped bring the number of fires down dramatically, according to early data. But thousands of acres of cleared and drained swampland still burned, and the resulting smog triggered pollution alerts across the Strait of Malacca in Singapore. David Gaveau, a scientist at the Indonesia-based Center for International Forestry Research, said that because so much land here is extremely combustible, it doesn’t take a weather anomaly like last year’s El Niño drought to cause fires.
Mencari Strategi yang Pas untuk Implementasi SGDs Butir 14: Ekosistem Kelautan
Indonesia ditantang untuk bisa melaksanakan tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) atau sustainable development goals (SDGs) butir 14 dalam bentuk riil yang bisa diterima oleh masyarakat luas. TPB butir 14 tersebut adalah tentang ekosistem kelautan yang mencakup pengembangan ekonomi maritim dan kelautan dan menjadi bagian dari TPB pilar lingkungan. Daniel Murdiyarso mengungkapkan bahwa munculnya butir 14 dalam TPB yang masuk dalam pilar lingkungan, menjadi penanda bahwa ekositem di laut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk kebaikan. Salah satu yang bisa dimanfatkan adalah hutan bakau atau mangrove. Menurut Daniel, kemampuan mangrove dalam menyerap emisi di bumi, mencapai 20 kali dari kemampuan hutan tropis. Karena itu, mangrove keberadaannya bisa menjadi gudang terbesar untuk penyimpanan emisi dunia.
Coastal blue carbon: Why should we care?
Coastal blue carbon is known as the carbon stored in tidal wetland ecosystems. It is kept within soil, living biomass and non-living biomass carbon pools. Coastal blue carbon is a subset of blue carbon that also includes ocean blue carbon, which represents carbon stored in open ocean carbon pools. Blue carbon science is advancing to support policymakers with credible scientific information to make sound decisions relating to the sustainable use of coastal and marine resources. Scientists from research organizations and universities are continuously improving their understanding, hence reducing uncertainties around the fate of blue carbon. — By Daniel Murdiyarso, a principal scientist at the Center for International Forestry Research (CIFOR).