Media Coverage


Perlu Transparansi dalam Mekanisme REDD+

Perlu Transparansi dalam Mekanisme REDD+

Cecilia Luttrell, peneliti CIFOR dalam UNODC Talk Series, memberikan komentar mengenai permasalahan data dalam mekanisme Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) Karbon. “Untuk mengupayakan data yang kredibel, jelas bahwa nantinya dalam mekanisme MRV, perlu berbagi dan transparansi, baik antar lembaga maupun dalam lembaga itu sendiri,” ungkap Luttrell. Ia menambahkan, juga dibutuhkan lembaga independen yang bisa memberikan informasi yang tepat, bisa diverifikasi serta understandable.


Using Indonesian forests

Using Indonesian forests

Daniel Murdiyarso, CIFOR senior climate change scientist share his view of the crucial step on institutional reform and massive public participation to mitigate climate change.


REDD+: ¿Cuánto cuesta en realidad?

REDD+: ¿Cuánto cuesta en realidad?

¿Cuánto cuesta REDD+? Desde que el influyente Informe Stern fuera publicado en 2006, muchos han argumentado que REDD+ (Reducción de Emisiones de la Deforestación y Degradación de los Bosques) es una de las opciones más económicas para mitigar el cambio climático. Sin embargo, hay quienes consideran que se trata de un esfuerzo costoso con resultados impredecibles para el clima y las poblaciones forestales del globo. ¿Quién tiene entonces la razón?


Central Kalimantan may complete provincial REDD+ strategy in 2 months

Central Kalimantan may complete provincial REDD+ strategy in 2 months

Owners of land as small as 2 hectares may be able to propose their area as a REDD+ project, Dohong said at a journalist workshop held by the Center for International Forestry Research in Palangka Raya, Central Kalimantan province on Borneo Island, on 15-18 July 2011. “The model will bundle the smallholders in one village or several villages” into one project, he said.



Cina dan Malaysia Pesaing Mebel Jepara

Cina dan Malaysia Pesaing Mebel Jepara

Pengusaha mebel di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, patut mewaspadai produk mebel asal Cina dan Malaysia karena mampu menciptakan produk dengan harga terjangkau dan kualitas bersaing. “Jika para pengusaha mebel di Jepara tidak mewaspadai kebangkitan pengusaha mebel dari kedua negara tersebut, dikhawatirkan pangsa pasar produk mebel dari Tanah Air akan berkurang,” kata peneliti dari Center for International Forestry Research, Ramadhani Achdiawan, di Jepara Trade and Tourism Center, Rabu (13/7).


Bertabur Sentra Kerajinan

Bertabur Sentra Kerajinan

Jepara identik dengan ukiran. Bahkan bisnis kerajinan ukiran telah menjadi roh bagi kehidupan masyarakat di sana. sentra-sentra kerajinan yang tersebar di Jepara, seperti Kawasan Krasak-Gemiring, Bondo Sekuro, Kedungcino-Mulyoharjo dan masih banyak lagi.


Ukiran Jepara: Seni yang Dilanda Mati Suri

Ukiran Jepara: Seni yang Dilanda Mati Suri

Sayangnya masa-masa booming itu tidak berlangsung lama. Memasuki tahun 2000-an volume perdagangan mebel dan ukiran Jepara cenderung menurun. Jika di tahun 2005 nilainya mencapai US$ 127 juta, maka di tahun 2007 nilainya merosot menjadi US$ 118 juta. Bahkan kini bisa dibilang industri ukiran dan mebel Jepara tengah mati suri. “Untuk saat ini nyaris tidak ada pesanan berskala besar yang mampir ke workshop perajin,” kata Margono, ketua Asosiasi dalam Asosiasi Pengrajin Kecil Jepara (APKJ). Apa yang menjadi penyebab industri yang pernah berjaya itu cepat mati suri?



Top