Media Coverage


LSM Sayangkan Moratorium Tak Cakup Hutan Sekunder

LSM Sayangkan Moratorium Tak Cakup Hutan Sekunder

Louis Verchot, peneliti perubahan iklim CIFOR menyatakan pendapatnya terkait Inpres moratorium hutan akan menimbulkan pertanyaan akan kemampuan Indonesia untuk memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen. “Upaya-upaya penurunan emisi perlu difokuskan pada mempertahankan hutan yang ada tetap sebagai hutan,” kata Peneliti Utama untuk Perubahan Iklim di CIFOR, Louis Verchot.


Reconciling economic, environmental interests: The oil palm case

Reconciling economic, environmental interests: The oil palm case

CIFOR cite in opinon about applying payment to ecosystem services (PES) policies in the oil palm industry. It said, PES would ensure that ecosystem services such as biodiversity preservation, water quality regulation, regional climate and air quality control can be maintained. CIFOR defined this as a kind of contractual payment to natural resource users, such payments being subject to the condition that they maintain a pre-defined environmental service.


Indonesia Loses Forests as Politicians Bicker

Indonesia Loses Forests as Politicians Bicker

Herry Purnomo, a scientist with the Centre for International Forestry Research comments on the progress of moratorium. “The President should be the one taking the lead, but he has been too careful, resulting in this stalemate.”


Alasan Lain Mempertahankan Ekosistem

Alasan Lain Mempertahankan Ekosistem

Belum lama ini peneliti memaparkan peran penting hutan mangrove dalam menyimpan substrat atau sedimen kaya karbon. Tahun lalu Daniel Murdiyarso dan beberapa peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) meneliti kandungan karbon pada hutan mangrove di Tanjung Puting (Kalimantan Selatan), Segara Anakan (Jawa Tengah), dan Taman Nasional Laut Bunaken (Sulawesi Utara). Hasilnya, kandungan karbon pada bagian atas substrat, seperti batang dan daun, sekitar 150 ton per hektar. Di hutan daratan rata-rata 200 ton per hektar.


Mangrove Hambat Perubahan Iklim

Mangrove Hambat Perubahan Iklim

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. “Kerusakan mangrove saat ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Ini harus dihentikan. Penelitan kami menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai peranan kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior dari Cifor, Selasa (5/4/2011) malam.

Daniel mengemukakan, pada 15 -20 tahun lalu, luas hutan mangrove Indonesia masih sekitar 8 juta hektar. Saat ini diperkirakan tinggal 2,5 juta hektar.


Hutan Bakau Menyimpan Banyak Karbon

Hutan Bakau Menyimpan Banyak Karbon

Indonesia perlu hutan bakau untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi di Indonesia. ‘’Pembicaraan tentang peran penting hutan lahan basah tropis di perubahan iklim dapat di perlebar untuk mengikutsertakan bakau,’’ kata Peneliti Senior Cifor, Daniel Murdiyarso saat menjadi narasumber seminar tentang tentang REDD+ dan Hutan Basah Indonesia di Bali, Senin-Kamis (11-14/4).


Les agriculteurs ne savent plus quand semer

Les agriculteurs ne savent plus quand semer

Chercheur au Projet Forêts du bassin du Congo et adaptation aux changements climatiques (Cofcca), Youssoufa Bele parle de l’expérience d’adaptation des paysans de la Lékié et des solutions alternatives mises en œuvre.


Potensi Karbon Hutan Bakau Tinggi

Potensi Karbon Hutan Bakau Tinggi

Peneliti senior CIFOR, Daniel Murdiarso mengatakan sudah seharusnya Indonesia memprioritaskan hutan bakau dalam mengatasi perubahan iklim karena hutan bakau memiliki banyak sifat yang sama dengan lahan gambut dan tingkat deforestasi dan degradasinya juga tinggi. “Hutan bakau semestinya mendapatkan tingkat perlindungan yang sama seperti gambut,” katanya.



Top