Media Coverage


Kerusakan Hutan Marak di Papua

Kerusakan Hutan Marak di Papua

Daniel Murdiyaso, peneliti senior CIFOR (Center for International Forestry Research) menyatakan, kerusakan hutan gambut dan mangrove cukup parah banyak terjadi di Papua. Selanjutnya disusul Kalimantan. Menurutnya, Pemerintah didua daerah ini kurang memperhatikan hutan mangrove dan gambut. Terkesan tak bermanfaat sama sekali bagi alam sekitar dan masyarakat setempat. “Mangrove tidak kalah penting dengan gambut,” ujar Murdiyaso didampingi Loius Verchot juga peneliti CIFOR dan Jyrki Jauhianien dari University of Helsiniki dalam sebuah jumpa pers dengan peserta Wetland Workshop dipenutupan acara REDD + (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dan peran lahan basah di Hotel Sanur Beach, Denpasar –Bali, Senin (11/4) sore.


CIFOR Gandeng Unipa Manokwari Teliti Tata Ruang dan Hutan

CIFOR Gandeng Unipa Manokwari Teliti Tata Ruang dan Hutan

enter for International Forestry Research (CIFOR) sementara ini bekerja sama dengan Universitas Negeri Papua (Unipa) di Manokwari, Papua Barat, menggelar penelitian soal tata ruang dan pengelolaan hutan. Penelitian tersebut sementara berlangsung di beberapa daerah di Papua. Hal ini disampaikan peneliti senior CIFOR, Daniel Murdiyaso kepada peserta Wetland Workshop dipenghujung kegiatan, di Hotel Sanur Beach, Denpasar –Bali, Senin (11/4) sore. “Kami sementara lakukan penelitian bersama Unipa dibeberapa tempat di Papua. penelitian itu sementara berlangsung,” ujarnya.


Hutan Bakau Banyak Dikonversi Jadi Tambak

Hutan Bakau Banyak Dikonversi Jadi Tambak

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pertambangan dan Redd Plus sangat bertolak belakang. Di satu sisi tambang tidak memerlukan hutan, di sisi lain Redd Plus membutuhkan keadaan yang menghijau. Meski ini adalah pertanyaan paling sulit, Daniel Murdiyarso, mengatakan tentu saja ada strategi spesifik yang sudah disiapkan Redd Plus. Salah satu pilarnya, kata dia, adalah bagaimana mengatasi permasalahan yang conflicting ini, paling tidak diminimalkan.


Lack of Public Awareness on Indonesia’s Vital Coastal Forests

Lack of Public Awareness on Indonesia’s Vital Coastal Forests

CIFOR scientist, Daniel Murdiyarso comments on the importance of mangrove forest for Indonesia. “Mangrove forest conservation should be part of the discussions on the important role of tropical wetlands and climate change,” senior researcher of the Center for International Forestry Research (CIFOR) Daniel Murdiyarso said at a seminar on wetlands in Denpasar, Bali, on Monday.


Indonesia`s mangroves need proper management

Indonesia`s mangroves need proper management

Daniel Murdiyarso, CIFOR scientist comments on the importance of mangrove forests for Indonesia. “Mangrove forest conservation should be part of the discussions on the important role of tropical wetlands and climate change,” senior researcher of the Center for International Forestry Research (CIFOR) Daniel Murdiyarso said at a seminar on wetlands in Denpasar, Bali, on Monday.


Cifor Sarankan Indonesia Prioritaskan Hutan Bakau

Cifor Sarankan Indonesia Prioritaskan Hutan Bakau

Lembaga Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) menyarankan Indonesia agar lebih memprioritaskan hutan bakau untuk dikonservasi sebagai salah satu cara mengatasi perubahan iklim. “Pembicaraan tentang peran penting hutan lahan basah tropis di perubahan iklim dapat diperlebar untuk mengikutsertakan bakau,” kata Peneliti Senior dari CIFOR, Daniel Murdiyarso, dalam seminar tentang lahan basah di Denpasar, Bali, Senin (11/4). Daniel menjelaskan hasil penelitian dari CIFOR dan US Forest Service memperlihatkan hutan bakau ternyata menyimpan jauh lebih banyak karbondioksida dibandingkan hutan tropis


RI wetlands integral in climate battle

RI wetlands integral in climate battle

Louis Verchot, a CIFOR senior researcher, said fossil-based emissions in Indonesia were low compared to forest-based emissions. “It’s clear that emission reduction activities are related to what happens in the forests. And, what happens is, very high emissions come from peatlands and everybody, including the Indonesian government, believes that the emissions from peatlands are going to grow,” he told the Post.


500 Juta Ton Karbon Teremisi dari Bakau

500 Juta Ton Karbon Teremisi dari Bakau

Lembaga Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) menyarankan kepada Indonesia untuk lebih memprioritaskan hutan bakau untuk dikonservasi sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan iklim.

“Pembicaraan tentang peran penting hutan lahan basah tropis di perubahan iklim dapat diperlebar untuk mengikutsertakan bakau,” kata Peneliti Senior dari CIFOR, Daniel Murdiyarso dalam seminar tentang lahan basah di Denpasar, Bali, Senin.

Daniel menjelaskan hasil penelitian dari CIFOR dan US Forest Service memperlihatkan hutan bakau ternyata menyimpan jauh lebih banyak karbondioksida dibandingkan hutan tropis.



Top