Media Coverage


Media Availability: Separating facts from fiction on forest, REDD and climate

Media Availability: Separating facts from fiction on forest, REDD and climate

In the midst of contentious negotiations in Copenhagen, more than 1500 of the world’s leading experts, activists, policymakers, journalists and global leaders will gather for Forest Day 3 to review new findings regarding the role of forests in reducing climate change and discuss the state of forests in global climate negotiations. The day-long event will take place on Sunday, 13 December. Forest Day 3 (FD3) is hosted by the Center for International Forestry Research (CIFOR), the Collaborative Partnership on Forests (CPF) and the Government of Denmark. Forest Day 3 will build on the success of Forest Day 1 and 2 in helping to place forests high on the agenda in current and future climate negotiations. For more information, please visit: www.forestday3.org

The story also appeared in FirstScience.com and EurekAlert


Clearing ground for a deal to save forest

Clearing ground for a deal to save forest

Most tropical forest nations are developing countries which argue that, since developed countries deforested without hindrance for centuries, environmental concerns should not prevent them exploiting forests that are considered more lucrative cleared than left standing and acting as sinks that trap and store carbon. “[Land use change] is up to 20 per cent of the problem so it’s certainly worth dedicating 20 per cent of our efforts to finding a solution,” says Frances Seymour, the head of the Indonesia-based Centre for International Forestry Research. Current estimates are that the preparation phase will last until about 2015, and will be mostly dependent on public money for funding, then there will be a five-year transition towards a market-dominated system and only thereafter will Redd be a predominantly market system.


Deklarasi 36 anak untuk memilih makanan sehat

Deklarasi 36 anak untuk memilih makanan sehat

Sebanyak 36 anak berusia 9-11 tahun dari 28 kota di Indonesia berkumpul, memberikan deklarasi untuk memilih makan sehat kepada mantan Menristek Kusmayanto Kadiman. Hal ini terjadi dalam puncak acara Konferensi Anak Bobo 2009 yang berlangsung Kamis, (29/10) di Hotel Santika, Jakarta. Konferensi Anak Bobo 2009 (KAB) merupakan ajang tahunan yang sudah berlangsung 9 kali. “Anak-anak yang terpilih merupakan anak-anak yang tulisannya tidak bertele-tele, panjangnya cukup, tapi mengena. Anak-anak seperti ini di anggap mampu bicara di depan dan bisa mengutarakan pikirannya. Isi tulisannya pun mencakup topik yang kami ajukan,” terang Kussusani, Pemimpin Redaksi Majalah Bobo, Rabu (28/10) di Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, dimana para peserta mendapatkan pembekalan pengetahuan mengenai keamanan pangan dan kelestarian pangan.


Berburu harta hutan, yuk!

Berburu harta hutan, yuk!

Para delegasi Konferensi anak 2009 ke hutan CIFOR, mengajak Nesi untuk berburu harta hutan. Nesi dan teman Delegasi Konferensi Anak 2009 harus berlomba-lomba mencari tanaman sumber pangan (pohon kelapa, pohon cokelat, pohon pakis, pohon mangga, dll) yang ada di hutan CIFOR. Setiap kelompok Delegasi Konferensi Anak 2009 diberikan peta harta hutan. Nah, dari peta itulah Nesi dan teman-teman berburu harta hutan. Setiap tanaman yang ada di hutan CIFOR menyembunyikan kantong-kantong berisi hasil tanaman yang telah diolah menjadi makanan yang sering kita temukan di supermarket atau toko. Kegiatan berlangusung pada tanggal 27 October 2009, dari siang menjelang sore


Sudah tahu CIFOR?

Sudah tahu CIFOR?

CIFOR adalah salah satu dari 15 pusat penelitian dalam Kelompok Konsultatif bagi Penelitian Pertanian Internasional. Nama dalam bahasa Inggrisnya, Consultative Group on International Agricultural Research atau disingkat CGIAR. CIFOR adalah rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan binatang. Meskipun bukan hutan alami, tapi kalau kamu berjalan-jalan ke sini, rasanya persis seperti di hutan. Hutan CIFOR luasnya lima hektar. Wilayah hutan CIFOR berada di lingkungan Pusat penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Bogor. Pemerintah Indonesia juga menawarkan hutan seluas 100.000 hektar di Kalimantan guna kegiatan penelitian lapangan.


Supermarket makanan

Supermarket makanan

Supermarket makanan = Hutan. Karena ternyata di dalam hutan terdapat banyak tanaman yang bisa dijadikan sebagai sumber makanan manusia dan makhluk hidup lainnya. Misalnya, pohon pakis, yang bisa dijadikan sebagai lauk pauk makanan Menurut kakak-kakak dari CIFOR yang menjadi pendamping para Delegasi Konferensi Anak 2009, pohon-pohon yang ada di dalam hutan ini bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan herbal dan bahan dasar pembuatan kosmetik.


Aduh, jariku kenapa?

Aduh, jariku kenapa?

Saat menjelajah dan berburu harta hutan, seorang anggota Delegasi Konferensi Anak 2009 asal Bandung (kelas 6B), yang bernama Fairuz Habibah Ramdhani terkena bulu-bulu halus dari satu tanaman berbuah yang dipetiknya di dalam hutan. Jari-jarinya seperti tertusuk-tusuk jarum. Di kelompok lainnya, seorang anggota Konferensi Anak 2009 asal Solo, Fatimah Vanesa atau yang akrab dipanggil Fanny menemukan sebuah pohon buah yang belum pernah Nesi dan teman-teman delegasi lainnya lihat. Pohonnya tinggi tapi menjuntai ke bawah seperti akar pohon jatuh. Di antara akar pohon yang menjuntai itu terdapat buahnya yang berwarna merah. Bentuknya bulat seperti buah jeruk. Kalau buah itu dibelah dua, warna dagingnya kuning, dan di tengah-tengah terdapat bijinya yang berwarna hitam. Menurut salah satu kakak pendamping, buah ini tidak bisa dimakan karena mengandung racun. Dan pohon yang beragam jenis ini hanya bias ditemukan di Hutan Cifor.


Nature calls for help

Nature calls for help

Frequency of natural disasters such as floods, hurricanes and landslides was thought of as increased. Fish harvesting period reduced. High temperatures brought on skin irritations. Springs dried up. Certain invasive plants spread and certain other flora and fauna species decreased. Some of the notable findings are both negative and positive. Flies and mosquitoes have increased. The congress participants were shown a harrowing movie clip of the impacts of climate change by Yani Saloh, Media Manager, and Centre for International Forestry Research (CIFOR), Indonesia. As dark shadows moved across cities and diseases spread across the globe, she was overcome with emotion and had to stop until she recovered herself. Indonesia had been particularly prone to tsunami and earthquakes in the recent times.



Top