Media Coverage


Indonesia wants money to preserve forests as part of new climate change deal

Indonesia wants money to preserve forests as part of new climate change deal

Markku Kanninen, from the Indonesia-based Center for International Forestry Research, said the idea of rewarding countries for preserving their forests was gaining international support given that deforestation now accounted for 20 percent of worldwide carbon dioxide emissions. «This is quite a cheap way of achieving some climate benefits, he said. We are not constructing any expensive technological solutions, we are just preserving something that is there.

Similar version of the article also published in Jakarta Post and International Herald Tribune



PROFILE Daniel Murdiyarso: Dari Hutan Melihat Masa Depan

PROFILE Daniel Murdiyarso: Dari Hutan Melihat Masa Depan

Seperti itu juga yang terjadi pada pria itu, Prof Daniel Murdiyarso PhD, dalam memetakan kondisi hutan masa kini, pemanfaatan, dan prediksinya bagi pembangunan bangsa. Anda mau melihat buktinya? Hal itu jelas terlihat pada kemampuannya memprediksi konversi penyerapan karbondioksida (CO2) dari hutan.

Keahlian tersebut jelas bukan main-main, karena tak sembarang orang bisa melakukannya. “Hutan bukan hanya untuk diambil kayunya. Mengambil kayu hanya sebagian kecil dari manfaat pohon,” tuturnya.

Pengetahuan semacam itu menjadi makin penting, kala pola perubahan iklim semakin menggejala saat ini. Sebab seperti diketahui, pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim sekarang ini sebenarnya sebagian besar berasal dari tingginya penyebaran CO2 di angkasa. CO2 yang terperangkap di lapisan langit, memaksa panas sinar matahari tertahan di udara bumi. Bumi yang bertambah panas mengakibatkan perubahan iklim dan cuaca.


Climate change not on the city’s mind

Climate change not on the city’s mind

Senior researcher at the Center for International Forestry Research Daniel Murdiyarso said that understanding of climate change was still very poor across Indonesia. "It is very sad, not only the public, but many of the state officials do not know what climate change is," he told reporters during a recent discussion hosted by WWF Indonesia.


Posisi SDA Masih sebagai Komoditas Pendapatan-Lokalatih Pembiayaan Jasa Lingkungan bagi Pembangunan Daerah Se-Kalimantan

Posisi SDA Masih sebagai Komoditas Pendapatan-Lokalatih Pembiayaan Jasa Lingkungan bagi Pembangunan Daerah Se-Kalimantan

Sayangnya selama ini -terutama di Indonesia- pemanfaatan nilai ekonomi masih terlalu dominan dibandingkan pemanfaatan nilai-nilai lingkungan dan sosial. Nilai jasa lingkungan seperti pemanfaatan sumber daya air, ekowisata, keragaman hayati, hasil hutan nirkayu serta nilai-nilai budaya masih belum diinternalisasikan ke dalam proses pengembangan kebijakan pendapatan berimbang. Untuk itulah, berbagai pihak penggerak lingkungan yang terdiri dari Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Kalimantan, Tropenbos, GTZ-SMCP, WWF Indonesia, Badan Pengelola HL Sungai Wain, Cifor dan didukung PT Pupuk Kaltim mengelar Lokalatih Pembiayan Jasa Lingkungan Bagi Pembangunan Daerah yang digelar 8–10 Mei 2007 di Balikpapan. Pembukaan sudah dilakukan kemarin (8/5) di Hotel Mega Lestari yang diisi lokakarya.


Deforestasi di Indonesia Capai 2% per Tahun

Deforestasi di Indonesia Capai 2% per Tahun

Isu deforestasi di Indonesia akan menjadi salah satu isu utama dalam Conference of Parties (COP) Ke-13 Protokol Kyoto, yang akan berlangsung di Bali, Desember 2007. Pasalnya laju deforestasi di Indonesia selama 2000-2005 mencapai 2% per tahun.

Kerusakan hutan Indonesia ini menjadi pemicu tingginya emisi karbon. Laporan Bank Dunia 2007 menyebutkan Indonesia sebagai negara penyumbang karbon dioksida (C02) ketiga di dunia akibat pembukaan hutan dengan cara dibakar dan pembalakan liar (illegal logging).

”Dengan situasi seperti ini, pertemuan di Bali akan sangat penting artinya dalam menghasilkan mandat yang akan memandu Protokol Kyoto untuk melajukan pengurangan emisi C02 dari deforestasi,” kata peneliti senior Pusat Riset Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) Daniel Murdiyaso di Jakarta, Rabu (2/4).

Deforestasi, lanjut dia, merupakan persoalan terbesar yang harus diatasi Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Data Kementerian Lingkungan Hidup 1998 menyebutkan, dari total 800 juta ton emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia selama 1992-1997 sekitar 75% di antaranya didominasi alih fungsi lahan. Sisanya, dengan angka yang kurang signifikan, dihasilkan oleh penggunaan energi dan aktivitas industri.


Sosialisasi Perubahan Iklim di Indonesia “Memilukan”

Sosialisasi Perubahan Iklim di Indonesia “Memilukan”

Peneliti senior CIFOR (Pusat Peneltian Hutan Internasional) mengatakan tingkat pemahaman isu perubahan iklim di Indonesia masih sangat minim, bukan cuma di tataran masyarakat tapi juga di kalangan Kabinet Indonesia Bersatu. Daniel menjelaskan, strategi pembangunan para menteri dan departemen-departeman tak mencakup sudut pandang adaptasi dan mitigasi, sehingga misalnya upaya pencapaian panen beras oleh Departemen Pertanian tidak disertai pertimbangan pelepasan karbon lewat pembukaan lahan. Itu sebabnya, kata penulis buku seri perubahan iklim tersebut, Indonesia harus lebih gencarkan sosialisasi tentang fenomena perubahan iklim dan menyisipkan isu ini ke semua strategi pembangunan.


Tahan laju Deforestasi Lebih Efektif Turunkan Emisi

Tahan laju Deforestasi Lebih Efektif Turunkan Emisi

Mencegah penebangan hutan jauh lebih efektif menurunkan total emisi gas rumah kaca di negara berkembang. Jika upaya menyerap karbon lewat penanaman hutan (aforestasi dan reforestasi) setiap tahunnya hanya sebesar 30 juta ton, deforestasi justru menyumbang 1700 juta ton emisi CO2 per tahun. Angka emisi akibat laju penebangan hutan ini terlalu besar karena setara dengan seperempat total emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Hal ini dikemukakan peneliti senior Pusat Riset Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) Daniel Murdiyaso di Jakarta, Rabu (2/4).



Top