Jakarta, (ANTARA News) – Survei yang dilakukan tahun 1995-1997 dan tahun 2002-2003 menunjukkan Indonesia rata-rata kehilangan 1,6-1,7 juta hektare areal hutan setiap tahunnya. Demikian pernyataan Direktur Jendral Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) David Kaimowitz di Jakarta, Kamis.
Media Coverage
Elite Penentu Kebijakan Belum Pahami Ekosistem
Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim mengatakan tingginya tingkat kerusakan hutan di Indonesia terjadi karena para elite penentu kebijakan dan masyarakat belum memahami arti ekosistem dan perannya dalam keberlangsungan hidup manusia.
Indonesia Kehilangan 1,7 Juta Hektare Hutan per Tahun
Survei yang dilakukan tahun 1995-1997 dan tahun 2002-2003 menunjukkan Indonesia rata-rata kehilangan 1,6-1,7 juta hektare areal hutan setiap tahunnya. Demikian pernyataan Direktur Jendral Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) David Kaimowitz di Jakarta, Kamis (7/7).
Puluhan Ribu Hektar Hutan di Kaltim Hilang
Jakarta, Kompas – Penghentian pembalakan liar harus menghadapi berbagai kendala besar. Perebutan kepentingan, seperti terjadi di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Kalimantan Timur, saja sudah menyebabkan hutan seluas 30.000-50.000 hektar hilang setiap tahun. Akibatnya, kerugian negara mencapai Rp 235,24 miliar.
MRF CIFOR-LIPI Teliti Anggrek
MALINAU-Malinau Research Forest (MRF) CIFOR bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bali mengadakan penelitian dan eksplorasi jenis-jenis anggrek (Dendrobium Sp) di Kabupaten Malinau. Penelitian ini merupakan upaya untuk menggali potensi anggrek yang ada di wilayah Kabupaten Malinau.
Manfaat Pelatihan Belum Disurvei
MALINAU-Banyak hal yang telah dilakukan oleh Malinau Research Forest Center For International Forestry (MRF CIFOR) selama 3 tahun ini dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) baik bagi pegawai maupun masyarakat melalui kerja sama dengan Pemkab Malinau. Upaya tersebut mulai dari pelatihan Management data dan ISG, Pengelolaan Hutan Lestari, Sistem Informasi Geografis (GIS) Lanjutan, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Reduced Impact Logging, RIL (Pembalakan Berdampak Rendah).
“The Amazon Devastated”
The original article is written in Spanish and describes the latest deforestation figures for the Amazon. It refers to CIFOR’s research into the impact cattle ranching has on the Amazon’s forests: “Right now, Brazil is the world’s second largest exporter of soybeans, after the United States, and one of the main exporters of beef. Consumption of Brazilian meat in Europe and of soybeans is one of the causes of the rapid increase in Amazon deforestation according to David Kaimowitz, the Director General of the Center for International Forestry Research (CIFOR). The European Union imports from Brazil almost 40% of the 578.000 tons of beef consumed each year in Europe. Brazil has more than 60 million head of cattle, of which more than 30% are in the Amazon. Brazil currently controls more than 20% of the world beef market.”
Jordens lungor allt svagare
Kalhyggena i Amazonas, "Jordens lungor", blir allt större. Det visar de senaste siffrorna från Brasiliens miljödepartement. Världens största urskog blev 26 000 kvadratkilometer mindre i fjol – det motsvarar Smålands yta.